MediaKopid,Bandung
— Dalam dunia dakwah, nama Nina Mahdiah S.Ag.,
M.Sos., mungkin tidak selalu tampil di panggung besar. Namun, perannya sebagai
Ketua Penyuluh Agama di KUA Ujung Berung telah memberikan dampak signifikan
bagi masyarakat, terutama melalui pendekatan dakwah yang tidak hanya berfokus
pada aspek agama, tetapi juga isu-isu sosial yang relevan dengan kehidupan
sehari-hari.
Sebagai sosok di balik keberhasilan program
Majelis Taklim Konversi Diniyah
(MTKD), Nina memahami bahwa dakwah masa kini tidak cukup hanya mengajarkan ilmu
agama. “Penyuluh agama itu bukan hanya bicara soal fiqih. Tugas kami lebih
luas, yakni menyampaikan kebijakan pemerintah dengan pendekatan agama, sehingga
masyarakat bisa memahami dan menerapkannya dalam kehidupan,” ujarnya.
Penyuluh
yang Menjawab Tantangan Zaman
Di tangan Nina, peran penyuluh agama
mengalami transformasi yang signifikan. Ia melihat bahwa isu-isu sosial seperti
pinjaman online (pinjol), kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan stunting
adalah tantangan besar yang harus dihadapi dengan pendekatan keagamaan. “Kami
tidak hanya memberikan ceramah, tetapi juga membahas hal-hal ini dengan
perspektif Islam, memberikan solusi, dan membangun kesadaran masyarakat,”
katanya.
Ia mengakui bahwa tantangan tersebut tidak
mudah, tetapi justru menjadi motivasi baginya untuk terus memperbarui metode
dakwah. Nina kerap menyesuaikan materi yang disampaikan dalam program MTKD agar
relevan dengan kondisi terkini. Hal ini membuat majelis taklim tidak hanya
menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang diskusi bagi masyarakat untuk
memahami isu-isu yang sedang mereka hadapi.
Empat
Pilar Tugas Penyuluh
Dalam perannya, Nina mengedepankan empat
fungsi utama penyuluh: informatif, edukatif, konsultatif, dan advokatif. Dengan
fungsi informatif, Nina dan timnya menyampaikan kebijakan pemerintah kepada
masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami. Dalam fungsi edukatif, mereka
memberikan pembinaan keagamaan dan sosial kepada berbagai lapisan masyarakat,
termasuk majelis taklim yang tersebar di lima kecamatan di Ujung Berung.
Sebagai konsultan masyarakat, Nina juga
menjadi tempat curhat dan konselor bagi warga yang membutuhkan solusi atas
berbagai persoalan hidup. Salah satu kisahnya adalah membantu seorang ibu yang
menjadi korban KDRT untuk mendapatkan bantuan hukum dan pemahaman tentang
hak-haknya. “Kami tidak hanya mendengar, tetapi juga memberikan solusi yang
sesuai dengan ajaran agama,” jelasnya.
Fungsi advokatif, menurut Nina, adalah
bentuk nyata dari kepedulian penyuluh agama terhadap masyarakat. Ia pernah
mengadvokasi sebuah masjid yang legalitasnya belum lengkap dengan menggandeng
Badan Wakaf Indonesia, sehingga masjid tersebut akhirnya memiliki sertifikasi
yang sah.
Inspirasi
yang Menggerakkan
Keberhasilan Nina dalam memimpin program
MTKD dan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai penyuluh tidak lepas dari prinsip
hidupnya: melayani masyarakat dengan hati. “Dakwah itu tentang mendengar,
memahami, dan merangkul. Jika kita bisa masuk ke hati masyarakat, mereka akan
lebih mudah menerima pesan yang kita sampaikan,” tuturnya.
Di balik kesibukannya, Nina tetap
menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu. Ia sering berbagi cerita
tentang bagaimana keluarganya menjadi sumber kekuatan dan motivasi untuk terus
berkontribusi bagi masyarakat.
Harapan
ke Depan
Nina berharap pendekatan dakwah yang ia
bangun dapat menjadi model bagi penyuluh agama lainnya. “Kita harus terus
beradaptasi dengan zaman, tanpa melupakan nilai-nilai agama. Semoga langkah
kecil yang kami lakukan di Ujung Berung bisa memberikan inspirasi dan manfaat
yang lebih luas,” pungkasnya.
Sosok Nina Mahdiah adalah cerminan dari
penyuluh agama yang bertransformasi menjadi agen perubahan sosial. Dengan
komitmen dan dedikasinya, ia telah membuktikan bahwa dakwah bukan hanya tentang
mengajarkan agama, tetapi juga membangun masyarakat yang peduli, tangguh, dan
berdaya.
Reporter : Melisa Bela Widyastuti, Mahasiswa KPI 5B
Tidak ada komentar
Posting Komentar